Suasana
kelas media online pagi ini (Selasa,06/02/18) seketika berubah ceria dengan
kehadiran sesosok pria tinggi berkemeja bernama Silfanus Alvin. Kedatangannya
bukan sekedar membagi tawa tapi juga membagikan pengalaman menariknya yang
kurang lebih sudah berkecimpung dalam dunia jurnalistik selama 7 tahun.
Kantin
di Universitas Multimedia Nusantara yang merupakan bagian dari Kompas Group, menjadi
objek awal pemberitaan yang ditulis oleh dara kelahiran 9 Oktober 1990 ini.
"Saya semakin tertarik ketika menyadari bahwa jurnalistik dapat mempengaruhi
sebuah kebijakan", ujarnya dengan tegas namun terdengar ringan.
Disela
pemberian materi dan tips untuk bisa menjadi seorang jurnalis yang baik, Alvin
juga sesekali menyelipkan cerita menarik serta keluh-kelahnya selama bekerja di
dunia tulis menulis ini. Selain pernah selama 13 jam berada dalam genangan air
untuk meliput banjir, beliau juga pernah tidur di jalanan dengan hanya
beralaskan koran hasil produksi tempatnya bekerja yaitu Kompas.
"Walau
saya pernah hanya tidur beralaskan koran untuk liputan, namun saya tidak pernah
menyesal menjadi seorang jurnalis karena dunia jurnalistik juga yang telah
membuat saya berkesempatan menemani orang nomor 1 di Indonesia, yaitu pak
Jokowi untuk bertemu koleganya", ujar lulusan Universitas Leicester dengan
raut sumrigah.
Yang
dapat saya petik dari pertemuan singkat dengan Silfanus Alvin adalah dunia
jurnalistik banyak menyimpan kisah dibalik liputannya. Banyak kisah yang menarik
untuk dimuat menjadi berita namun banyak juga berita yang tidak tepat untuk
diberitakan namun berharga untuk dijadikan sebagai memori kehidupan.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar