Oleh Stefanny Eveline ( UBM News )
Pesona Menarik Pulau Pari Yang Asik, Patut Dilirik
Sinar matahari yang terik dan desiran angin yang seolah berirama menjadi pembuka hari dari
mahasiswa Univesitas Bunda Mulia di Pelabuhan Kali Adem. Gelak canda dan tawa
mulai mengisi bagian awal dari perjalanan ini. Kondisi cuaca yang terbilang panas
sama sekali tidak mengurangi semangat saya dan teman-teman untuk mengukir
kenangan indah menelurusi keindahan Indonesia bersama.
Setelah menunggu beberapa lama, akhirnya kapal yang ditunggu sejak pagi tadi tiba. Saya dan teman-teman berlari girang memasuki kapal dan langsung mengambil posisi dekat jendela, “Biar bisa lihat jalur perjalanan kita ke Pulau Pari, dan biar gak pusing” ujar Delfi, teman sekelas saya yang juga tak kalah semangat menanti keindahan pulau pari yang sebentar lagi akan kita jumpai.
Setelah menunggu beberapa lama, akhirnya kapal yang ditunggu sejak pagi tadi tiba. Saya dan teman-teman berlari girang memasuki kapal dan langsung mengambil posisi dekat jendela, “Biar bisa lihat jalur perjalanan kita ke Pulau Pari, dan biar gak pusing” ujar Delfi, teman sekelas saya yang juga tak kalah semangat menanti keindahan pulau pari yang sebentar lagi akan kita jumpai.
Terik lampu dunia yang tajam membuat kami memutuskan untuk beristirahat sepanjang perjalanan. Tak
terasa kami sudah sampai ke Pulau Pari dengan menempuh perjalanan selama 2 jam.
Perjalanan jauh dari pelabuhan menuju pulau, rasa capek, lelah, dan panas
seketika terbayar lunas dan sirna ketika melihat panorama alam yang seolah tersenyum menyambut ramah rombongan kami.
Sungguh asri, sungguh aneh rasanya di kota besar seperti Jakarta yang penuh dengan penduduk dan bangunan-bangunan tinggi ternyata masih terselip keindahan nusantara yang tak kalah indah bila disandingkan dengan negeri seberang.
Sungguh asri, sungguh aneh rasanya di kota besar seperti Jakarta yang penuh dengan penduduk dan bangunan-bangunan tinggi ternyata masih terselip keindahan nusantara yang tak kalah indah bila disandingkan dengan negeri seberang.
Dengan menggebu, saya dan teman-teman langsung menuju
penginapan. Kami langsung berberes dengan harapan mampu menelurusi semua titik wisata
di pulau ini walau dengan waktu yang singkat. Putusan pertama yang diambil
adalah saya ingin langsung menuju salah satu pantai di Pulau Pari yaitu Pantai Pasir Perawan,
Semangat saya yang tak kalah besar dari ombak pantai menuntun saya mengendarai sepeda menuju lokasi. Betul saja, sesampainya disana angin yang berhebus, pasir yang menggunung serta ombak kecil dipantai seolah mengundang saya untuk melangkah ke arahnya.
Semangat saya yang tak kalah besar dari ombak pantai menuntun saya mengendarai sepeda menuju lokasi. Betul saja, sesampainya disana angin yang berhebus, pasir yang menggunung serta ombak kecil dipantai seolah mengundang saya untuk melangkah ke arahnya.
Setelah puas bermain volley
dan menikmati keindahan alam di Pantai Pasir Perawan, saya dan rombongan langsung
melanjutkan kunjungan ke pantai lain yang tak kalah menakjubkan yaitu Pantai Kresek. Semua terlihat aktif bercanda, mengambil foto, tertawa dan menikmati
pesona eksotis yang dimiliki pulau ini.
Tak jarang saya dan teman-teman berpapasan dengan beberapa wisatawan dari rombongan lain. Ada wisatawan mancanegara, ada wisatawan lokal berkeluarga, ada pula wisatawan yang merupakan mahasiswa sama seperti kami.
Salah satu nya adalah Mas Holis yang merupakan mahasiswa pasca sarjana dari Univesitas Tugu Tani, “Saya diberi tugas untuk membudidayakan keindahan alam disini, saya berencana membuat penangkaran penyu, penangkaran pari, dll. Hal ini saya lakukan guna memajukan pantai kresek karena saya lihat pantai ini sebenarnya sangat berpotensi namun masih kurang sosialisasinya”. Ujar beliau kepada saya dan teman-teman di sela kegiatannya mengamati kondisi pantai.
Tak jarang saya dan teman-teman berpapasan dengan beberapa wisatawan dari rombongan lain. Ada wisatawan mancanegara, ada wisatawan lokal berkeluarga, ada pula wisatawan yang merupakan mahasiswa sama seperti kami.
Salah satu nya adalah Mas Holis yang merupakan mahasiswa pasca sarjana dari Univesitas Tugu Tani, “Saya diberi tugas untuk membudidayakan keindahan alam disini, saya berencana membuat penangkaran penyu, penangkaran pari, dll. Hal ini saya lakukan guna memajukan pantai kresek karena saya lihat pantai ini sebenarnya sangat berpotensi namun masih kurang sosialisasinya”. Ujar beliau kepada saya dan teman-teman di sela kegiatannya mengamati kondisi pantai.
Waktu terus berjalan, tak terasa jam sudah menunjukan pukul
18.00 WIB, kami segera kembali ke penginapan, berberes guna mengikuti kegiatan
berikutnya yaitu BBQ. Dengan mengendarai sepeda kami menuju Pantai Kresek. Kami
bercanda dan tertawa menghabiskan waktu bersama ditemani angin malam yang
berhembus sejuk. Disela kegembiraan, saya melihat sosok laki-laki yang tampak
senang memperhatikan kegiatan kami, ia selalu hadir dan cukup memegang kendali
besar atas suksesnya acara kunjungan kami ke pulau ini. Ialah mas Bonte, Tour
Guide kami.
“Sebenarnya peran pemerintah atas pulau ini masih kurang, yang
memegang peran atas pengembangan pulau ini didominasi oleh masyarakat pulau
pari sendiri. Dalam sebulan juga belum tentu pemerintah menginjakan kaki
disini.” Ujar beliau yang diselingi harapan darinya untuk pemerintah agar lebih
memperhatikan dan menunjukan kepeduliannya pada Pulau Pari.
Saya cukup kaget dengan pernyataan ini, sungguh luar biasa.
Hal positif yang dapat kita ambil adalah walaupun tanpa bantuan besar
pemerintah, warga Pulau Pari masih mampu menunjukan bahwa mereka bisa membudidayakan
kealamian panorama pulau pari dengan mandiri.
Ketika acara BBQ sudah selesai, kami kembali menuju
penginapan. Namun sebelum beranjak tidur, saya dan teman-teman memutuskan untuk
terlebih dahulu mengunjungi warung yang berada tepat di samping penginapan kami.
Didalam warung sederhana namun rapi itulah kami bertemu ibu Tarwiah, seorang
istri dari orang asli Pulau Pari. Beliau menjajakan dagangan dari pagi hingga
malam, sejak setahun terakhir.
“Saya sebenernya sudah tinggal disini dari dulu, cuma dulu
sebelum jadi objek wisata pulau pari ini masih sepi makanya saya pindah ke
daratan, nah setahun terakhir ini saya baru kembali buka warung lagi”, ujar
beliau dengan ramah. Penghasilan dari warung ibu Tarwiah juga terbilang
lumayan, dalam seminggu beliau mampu menghasilkan uang hingga Rp.500,000 – Rp.750.000
tergantung jumlah pengunjung yang datang. Dengan bangga juga beliau menuturkan
bahwa ada beberapa pantai di pulau ini, yaitu Pantai Pasir Perawan, Pantai Kresek, Pantai Bintang, Pantai Bukit Matahari, dan Pantai Penelitian.
Sinar matahari kembali hadir dan menembus jendela kamar
penginapan kami, hari ini adalah hari terakhir kami berada di pulau yang
eksotis ini. Dengan sedikit berat hati kami mengikuti kegiatan terakhir di pulau
ini, belum ingin pulang rasanya namun apa daya. Yang dapat kita lakukan
sekarang adalah menikmati pesona pulau pari ini secara maksimal dengan waktu
yang tersisa.
Dengan semangat yang tak kalah besar dari ombak pantai, kami menapaki jalan untuk kembali mengunjungi Pantai Kresek, disana kami
mendapat kesempatan yang istimewa dimana kami bisa langsung mewawancarai salah
satu tokoh penting di Pulau Pari ini yaitu Bp. Nurhayat.
Beliau adalah ketua RW 04 kelurahan Pulau Pari. Dengan ramah
beliau menceritakan sejarah pulau ini, “Pulau ini sudah ada sejak 2010 hingga
sekarang. Dahulu masyarakat disini itu mata percahariannya adalah nelayan
budidaya ikan atau rumput laut. Namun sejak pulau ini menjadi objek wisata,
sebagian masyarakat nya jadi beralih profesi yang tadinya nelayan jadi buka
warung, yang pemuda nya jadi guide”,
ujarnya.
Beliau juga menuturkan bahwa icon dari pulau ini adalah
pantai pasir perawan, memang benar di pantai tersebut sudah banyak objek wisata
yang mendukung seperti lapangan volley, penanaman mangrove, ayunan, gazebo,
warung makan, penitipan sepeda, dll. Maka tidak heran bagi saya jika pantai tersebut
menjadi pantai yang paling diminati oleh wisatawan lokal maupun mancanegara.
“Bila hari sabtu-minggu pengunjung Pulau Pari bisa mencapai
2000 - 3000, sedangkan hari biasa mencapai 1000. Namun 1 tahun terakhir jumlah pengunjung
yang datang agak berkurang dari tahun-tahun sebelumnya.” Ujar beliau. Pak
Nurhayat juga menuturkan bahwa pengunjung Pulau Pari didominasi oleh wisatawan
lokal, dan untuk menarik perhatian wisatawan mancanegara, para pengurus pulau
pari kerap mengadakan promosi seperti paket perjalanan serta meningkatkan
fasilitas serta kebersihan.
Ketika saya bertanya kira-kira apa yang dapat dianggap
sebagai keunggulan dari Pulau Pari dibanding pulau lainnya, dengan tegas dan
lantang beliau berkata bahwa di pulau ini fasilitas yang ditawarkan sangat
profesional, kebersihan pun terjaga dan objek wisata yang ada pun beragam.
Proses wawancara pun selesai, kami kembali ke penginapan kemudian berkemas dan langsung menuju dermaga. Waktu berjalan sangat cepat, kami sudah harus kembali ke pelabuhan muara angke dan kembali ke rutinitas sehari-hari. Kembali bertemu dengan gedung, jalanan dan keramaian meninggalkan kesejukan, ketenangan dan keindahan pulau yang alami ini.
Keindahan pulau pari perlu dilestarikan dan ditingkatkan,
untuk apa? Bukan hanya agar kita bisa menikmatinya kembali namun juga agar
generasi-generasi berikutnya memiliki kesempatan yang sama seperti kita. Agar
mereka bisa merasakan udara sejuk yang alami, agar mereka mampu menapakan kaki
di atas pasir lembut, agar mereka menyadari kekayaan Indonesia dan agar mereka
mampu turut berkontribusi dalam pelestarian nusantara.
“Masyarakat harus menjadi subjek, bukan objek. Kesadaran
dari diri masyarakat yang justru akan mendorong pergerakan dalam pengembangan
destinasi. Permintaan pasar dan pergeseran minat memang memegang andil besar
dalam sektor pariwisata. Namun keikutsertaan masyarakat juga turut berpengaruh”,
ujar Pak Rianto, guru pariwisata di Universitas Bunda Mulia.
Pernyataan dari Pak Tazbir Abdullah yang merupakan asisten
Deputi pengembangan segmen pasar bisnis dan pemerintah pariwisata Indonesia
dalam sebuah seminar mengenai komunikasi pariwisata juga mendukung pernyataan
dari Pak Rianto.
Beliau berkata bahwa pemerintah memang bertanggung jawab
atas kondisi alam Indonesia namun pemerintah tidak dapat bekerja sendiri, kita
sebagai generasi penerus bangsa dan generasi penjaga serta pengembang nusantara
harus turut ikut serta agar keadaan alam yang eksotis dapat terjaga keutuhannya.
Nikmatilah keindahan nusantara namun jangan hiraukan keindahan tubuh alam, tetap jaga dan lestarikan agar kebahagiaan dan ketenangan dapat tercipta bukan hanya bagi kita tapi juga bagi anak dan cucu kelak.
Sungguh banyak pelajaran, pengalaman dan kenangan yang
terukir hanya dalam waktu 2 hari 1 malam. Begitu indahnya Indonesia, begitu
luar biasa panorama eksotis pulau ini. Saya tidak akan pernah menyesal pernah
kesini, saya pun tidak akan pernah menolak untuk kembali datang kesini. Sampai bertemu
lagi, Pulau Pari yang menarik dan asik.
