Selasa, 10 November 2015

Pesona Menarik Pulau Pari Yang Asik, Patut Dilirik


Oleh Stefanny Eveline ( UBM News )


Pesona Menarik Pulau Pari Yang Asik, Patut Dilirik





Sinar matahari yang terik dan desiran angin yang seolah berirama menjadi pembuka hari dari mahasiswa Univesitas Bunda Mulia di Pelabuhan Kali Adem. Gelak canda dan tawa mulai mengisi bagian awal dari perjalanan ini. Kondisi cuaca yang terbilang panas sama sekali tidak mengurangi semangat saya dan teman-teman untuk mengukir kenangan indah menelurusi keindahan Indonesia bersama.

Setelah menunggu beberapa lama, akhirnya kapal yang ditunggu sejak pagi tadi tiba. Saya dan teman-teman berlari girang memasuki kapal dan langsung mengambil posisi dekat jendela, “Biar bisa lihat jalur perjalanan kita ke Pulau Pari, dan biar gak pusing” ujar Delfi, teman sekelas saya yang juga tak kalah semangat menanti keindahan pulau pari yang sebentar lagi akan kita jumpai.




Terik lampu dunia yang tajam membuat kami memutuskan untuk beristirahat sepanjang perjalanan. Tak terasa kami sudah sampai ke Pulau Pari dengan menempuh perjalanan selama 2 jam. Perjalanan jauh dari pelabuhan menuju pulau, rasa capek, lelah, dan panas seketika terbayar lunas dan sirna ketika melihat panorama alam yang seolah tersenyum menyambut ramah rombongan kami.

Sungguh asri, sungguh aneh rasanya di kota besar seperti Jakarta yang penuh dengan penduduk dan bangunan-bangunan tinggi ternyata masih terselip keindahan nusantara yang tak kalah indah bila disandingkan dengan negeri seberang.

Dengan menggebu, saya dan teman-teman langsung menuju penginapan. Kami langsung berberes dengan harapan mampu menelurusi semua titik wisata di pulau ini walau dengan waktu yang singkat. Putusan pertama yang diambil adalah saya ingin langsung menuju salah satu pantai di Pulau Pari yaitu Pantai Pasir Perawan,

Semangat saya yang tak kalah besar dari ombak pantai menuntun saya mengendarai sepeda menuju lokasi. Betul saja, sesampainya disana angin yang berhebus, pasir yang menggunung serta ombak kecil dipantai seolah mengundang saya untuk melangkah ke arahnya.






Dengan kaki tanpa alas kami menyeberangi pantai pasir perawan guna menanam mangrove, ini merupakan pengalaman yang menarik bagi saya pribadi. Kapan lagi kita bisa merasa begitu dekat dengan alam? Saya sangat merasa dekat dengan alam ketika saya pergi ke pulau ini.




Setelah puas bermain volley dan menikmati keindahan alam di Pantai Pasir Perawan, saya dan rombongan langsung melanjutkan kunjungan ke pantai lain yang tak kalah menakjubkan yaitu Pantai Kresek. Semua terlihat aktif bercanda, mengambil foto, tertawa dan menikmati pesona eksotis yang dimiliki pulau ini.

Tak jarang saya dan teman-teman berpapasan dengan beberapa wisatawan dari rombongan lain. Ada wisatawan mancanegara, ada wisatawan lokal berkeluarga, ada pula wisatawan yang merupakan mahasiswa sama seperti kami.

Salah satu nya adalah Mas Holis yang merupakan mahasiswa pasca sarjana dari Univesitas Tugu Tani, “Saya diberi tugas untuk membudidayakan keindahan alam disini, saya berencana membuat penangkaran penyu, penangkaran pari, dll. Hal ini saya lakukan guna memajukan pantai kresek karena saya lihat pantai ini sebenarnya sangat berpotensi namun masih kurang sosialisasinya”. Ujar beliau kepada saya dan teman-teman di sela kegiatannya mengamati kondisi pantai.

Waktu terus berjalan, tak terasa jam sudah menunjukan pukul 18.00 WIB, kami segera kembali ke penginapan, berberes guna mengikuti kegiatan berikutnya yaitu BBQ. Dengan mengendarai sepeda kami menuju Pantai Kresek. Kami bercanda dan tertawa menghabiskan waktu bersama ditemani angin malam yang berhembus sejuk. Disela kegembiraan, saya melihat sosok laki-laki yang tampak senang memperhatikan kegiatan kami, ia selalu hadir dan cukup memegang kendali besar atas suksesnya acara kunjungan kami ke pulau ini. Ialah mas Bonte, Tour Guide kami.

“Sebenarnya peran pemerintah atas pulau ini masih kurang, yang memegang peran atas pengembangan pulau ini didominasi oleh masyarakat pulau pari sendiri. Dalam sebulan juga belum tentu pemerintah menginjakan kaki disini.” Ujar beliau yang diselingi harapan darinya untuk pemerintah agar lebih memperhatikan dan menunjukan kepeduliannya pada Pulau Pari.

Saya cukup kaget dengan pernyataan ini, sungguh luar biasa. Hal positif yang dapat kita ambil adalah walaupun tanpa bantuan besar pemerintah, warga Pulau Pari masih mampu menunjukan bahwa mereka bisa membudidayakan kealamian panorama pulau pari dengan mandiri.

Ketika acara BBQ sudah selesai, kami kembali menuju penginapan. Namun sebelum beranjak tidur, saya dan teman-teman memutuskan untuk terlebih dahulu mengunjungi warung yang berada tepat di samping penginapan kami. Didalam warung sederhana namun rapi itulah kami bertemu ibu Tarwiah, seorang istri dari orang asli Pulau Pari. Beliau menjajakan dagangan dari pagi hingga malam, sejak setahun terakhir.

“Saya sebenernya sudah tinggal disini dari dulu, cuma dulu sebelum jadi objek wisata pulau pari ini masih sepi makanya saya pindah ke daratan, nah setahun terakhir ini saya baru kembali buka warung lagi”, ujar beliau dengan ramah. Penghasilan dari warung ibu Tarwiah juga terbilang lumayan, dalam seminggu beliau mampu menghasilkan uang hingga Rp.500,000 – Rp.750.000 tergantung jumlah pengunjung yang datang. Dengan bangga juga beliau menuturkan bahwa ada beberapa pantai di pulau ini, yaitu Pantai Pasir Perawan, Pantai Kresek, Pantai Bintang, Pantai Bukit Matahari, dan Pantai Penelitian.

Sinar matahari kembali hadir dan menembus jendela kamar penginapan kami, hari ini adalah hari terakhir kami berada di pulau yang eksotis ini. Dengan sedikit berat hati kami mengikuti kegiatan terakhir di pulau ini, belum ingin pulang rasanya namun apa daya. Yang dapat kita lakukan sekarang adalah menikmati pesona pulau pari ini secara maksimal dengan waktu yang tersisa.

Dengan semangat yang tak kalah besar dari ombak pantai, kami menapaki jalan untuk kembali mengunjungi Pantai Kresek, disana kami mendapat kesempatan yang istimewa dimana kami bisa langsung mewawancarai salah satu tokoh penting di Pulau Pari ini yaitu Bp. Nurhayat.






Beliau adalah ketua RW 04 kelurahan Pulau Pari. Dengan ramah beliau menceritakan sejarah pulau ini, “Pulau ini sudah ada sejak 2010 hingga sekarang. Dahulu masyarakat disini itu mata percahariannya adalah nelayan budidaya ikan atau rumput laut. Namun sejak pulau ini menjadi objek wisata, sebagian masyarakat nya jadi beralih profesi yang tadinya nelayan jadi buka warung, yang pemuda nya jadi guide”, ujarnya.

Beliau juga menuturkan bahwa icon dari pulau ini adalah pantai pasir perawan, memang benar di pantai tersebut sudah banyak objek wisata yang mendukung seperti lapangan volley, penanaman mangrove, ayunan, gazebo, warung makan, penitipan sepeda, dll. Maka tidak heran bagi saya jika pantai tersebut menjadi pantai yang paling diminati oleh wisatawan lokal maupun mancanegara.

“Bila hari sabtu-minggu pengunjung Pulau Pari bisa mencapai 2000 - 3000, sedangkan hari biasa mencapai 1000. Namun 1 tahun terakhir jumlah pengunjung yang datang agak berkurang dari tahun-tahun sebelumnya.” Ujar beliau. Pak Nurhayat juga menuturkan bahwa pengunjung Pulau Pari didominasi oleh wisatawan lokal, dan untuk menarik perhatian wisatawan mancanegara, para pengurus pulau pari kerap mengadakan promosi seperti paket perjalanan serta meningkatkan fasilitas serta kebersihan.

Ketika saya bertanya kira-kira apa yang dapat dianggap sebagai keunggulan dari Pulau Pari dibanding pulau lainnya, dengan tegas dan lantang beliau berkata bahwa di pulau ini fasilitas yang ditawarkan sangat profesional, kebersihan pun terjaga dan objek wisata yang ada pun beragam.

Proses wawancara pun selesai, kami kembali ke penginapan kemudian berkemas dan langsung menuju dermaga. Waktu berjalan sangat cepat, kami sudah harus kembali ke pelabuhan muara angke dan kembali ke rutinitas sehari-hari. Kembali bertemu dengan gedung, jalanan dan keramaian meninggalkan kesejukan, ketenangan dan keindahan pulau yang alami ini.



Keindahan pulau pari perlu dilestarikan dan ditingkatkan, untuk apa? Bukan hanya agar kita bisa menikmatinya kembali namun juga agar generasi-generasi berikutnya memiliki kesempatan yang sama seperti kita. Agar mereka bisa merasakan udara sejuk yang alami, agar mereka mampu menapakan kaki di atas pasir lembut, agar mereka menyadari kekayaan Indonesia dan agar mereka mampu turut berkontribusi dalam pelestarian nusantara.

“Masyarakat harus menjadi subjek, bukan objek. Kesadaran dari diri masyarakat yang justru akan mendorong pergerakan dalam pengembangan destinasi. Permintaan pasar dan pergeseran minat memang memegang andil besar dalam sektor pariwisata. Namun keikutsertaan masyarakat juga turut berpengaruh”, ujar Pak Rianto, guru pariwisata di Universitas Bunda Mulia.

Pernyataan dari Pak Tazbir Abdullah yang merupakan asisten Deputi pengembangan segmen pasar bisnis dan pemerintah pariwisata Indonesia dalam sebuah seminar mengenai komunikasi pariwisata juga mendukung pernyataan dari Pak Rianto.


Beliau berkata bahwa pemerintah memang bertanggung jawab atas kondisi alam Indonesia namun pemerintah tidak dapat bekerja sendiri, kita sebagai generasi penerus bangsa dan generasi penjaga serta pengembang nusantara harus turut ikut serta agar keadaan alam yang eksotis dapat terjaga keutuhannya. 

Nikmatilah keindahan nusantara namun jangan hiraukan keindahan tubuh alam, tetap jaga dan lestarikan agar kebahagiaan dan ketenangan dapat tercipta bukan hanya bagi kita tapi juga bagi anak dan cucu kelak.

Sungguh banyak pelajaran, pengalaman dan kenangan yang terukir hanya dalam waktu 2 hari 1 malam. Begitu indahnya Indonesia, begitu luar biasa panorama eksotis pulau ini. Saya tidak akan pernah menyesal pernah kesini, saya pun tidak akan pernah menolak untuk kembali datang kesini. Sampai bertemu lagi, Pulau Pari yang menarik dan asik.